Senin, 02 Juni 2014

Bakso Special di Hari Spesial



Bakso merupakan salah satu makanan yang paling digemari oleh orang Indonesia.   Bakso menjadi menu andalan dikala lapar melanda. Selain harganya ekonomis, rasannya yang maknyos, juga sangat cocok disantap kapan saja, apalagi pada malam hari dan ditambah dengan senandung dari hujan,, cihuyy makin mantaaapppp. Perpaduan bahan-bahan yang terdiri dari karbohidrat, protein,  lemak, ditambah dengan campuran lainnya seperti sayur, tomat, telur dan bahan-bahan lainnya menjadikan menu ini memiliki gizi yang baik untuk kesehatan. 
 
Hmm..membahas tentang bakso, akupun tertarik untuk melakukan eksperimen. Umumnya bakso dibuat dari daging sapi, tapi karena didaerah tempat penugasanku saat ini, yaitu di Wakatobi sangatlah susah mendapatkan daging sapi, aku pun menggunakan ikan sebagai bahan pengganti daging sapi.  Dengan banyaknya pantai yang ada di Wakatobi, karena terdiri dari banyak pulau kecil,  membuat kabupaten ini kaya akan hasil lautnya, salah satunya adalah ikan.

Setelah mencari cara membuat bakso ikan di Internet, aku kemudian mencari ikan dipasar, ditemani seorang kawan. Kalau dari informasi di Internet, untuk membuat bakso ikan yaitu menggunakan ikan tenggiri. Tapi ketika aku cari dipasar, ikan tenggirinya belum ada. Aku pun memilih ikan tongkol sebagai alternatifnya. Kalau di Wakatobi  disebut ikan Balaki. Harganya sangat murah. Ada sekitar 20 ekor, hanya 5 ribu rupiah saja. Murah banget kan…. Maklum Wakatobi adalah gudangnya ikan. Saat itu juga pasokan ikan sedang banyak-banyaknya.

Aku juga mencari bahan-bahan lainnya. Setelah semua bahan didapat, kami bergegas pulang dan langsung mulai bereksperimen. Di Wakatobi hanya beberapa saja kita bisa temukan warung bakso, di pulau tempatku tinggal , yaitu di Pulau Wangi-Wangi penjual bakso bisa dihitung jari.  Kita bisa mendapatkan dengan mudah warung bakso ketika pergi ke Pasar Sentra. Disana ada sekitar 3 warung bakso. 

Selain ingin bereksperimen, hari ini juga bertepatan dengan hari ulathku yang ke 24. Wow,,, umur udah hampir seperempat abad. Di hari yang spesial ini aku ingin membuat sesuatu yang spesial pula, maka kubuatlah bakso ikan spesial.

Hari itu aku juga mengundang rekan-rekan mengajarku (guru-guru MIS AL IKHLAS) untuk datang ke rumah, menyantap bakso rame-rame. Aku menunggu kedatangan mereka seharian. Tapi karena cuaca yang tidak mendukung, hujan turun dari siang hari hingga malam, sehingga hanya satu orang saja guru yang hadir. Tapi, meski begitu, tak mengurangi kebahagiaan yang kurasa. Malam itu ditemani dengan keluarga induk semangku dan juga anak-anak mengajiku, kami menyantap hidangan special itu bersama-sama, tak lupa juga dengan ikan bakar, kasoami dan sambal colo-colo (sambel tomat mentah).

Aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Selain masih diberikan kesempatan hidup untuk bisa berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat, miladku kali ini juga dikelilingi oleh orang-orang special, meski baru beberapa bulan saja aku mengenal mereka. Ya, murid-murid mengajiku, bagiku mereka adalah orang-orang special. Irfan, Ifi dan Riski, mereka murid mengajiku yang setia menemani hari-hariku. Hampir tiap malam tak pernah kurasakan kesepian. Mereka selalu datang kerumah untuk mengaji dan belajar.

Seperti malam ini, pada saat hari miladku, setelah selesai mengaji aku mengajak mereka untuk makan bersama-sama. Meski mungkin dengan hidangan sederhana, tapi terasa begitu spesial. Tampak mereka begitu lahap menyantap bakso yang kubuat, apalagi Irfan, tanpa malu-malu langsung menyikat habis bakso yang ada di hadapannya. Mereka juga meminta nambah lagi. Hidangan yang di piring-piring sudah habis tak bersisa dalam sekian menit. Aku senang melihat mereka dengan lahapnya makan. Aku juga tertawa melihat aksi polos Irfan saat kususapi kasoami dan ikan bakar. Irfan adalah siswa kelas  1 SD, Ifi siswi kelas 5, sedangkan Riski siswi kelas 6, rumah mereka dekat dari rumahku. 

Sebelumnya siang harinya aku juga menyuapi ibu (induk semangku) dengan bakso yang baru selesai kubuat. Aku meminta beliau mencicipinya. Aku pun di doakan olehnya, entah doa apa yang beliau bacakan untukku, tapi beliau terlihat begitu khusyu dan tulus saat mendoakanku. Semoga apapun doa beliau, bisa terkabulkan dan pastinya yang terbaik untukku. Aamiin.  

Keesokan harinya, aku membawa satu toples kecil bakso yang akan kubagi pada guru-guru rekan mengajarku. Mereka terlihat begitu menikmati bakso itu dan salah satu dari mereka memintaku kembali untuk membuat bakso jika nanti aku punya waktu luang. 

Saat tiba disekolah, tak banyak guru yang kutemui. Rupanya ada 2 orang guru yang sedang pergi ke pasar. Ketika aku sedang mengajar dikelas 5, salah seorang guru membuka pintu dan bertanya padaku,
“mba Alan, berapa ukuran sepatu kita?”
Aku tampak sedikit bingung, dan bertanya dalam hati, ada apa ya.
“mm,,36 pak”, jawabku singkat.
“terimakasih”, katanya sambil menutup kembali pintu.
Selesai mengajar, aku biasanya langsung ke ruang guru. Tapi, masih sepi juga. Beberapa saat kemudian, seorang guru masuk dengan membawa 2 buah kado dan memberikanku ucapan selamat. Dialah mba Safi, guru senior di sekolah tempatku mengajar tapi umur kami hampir sama. Di salah satu kado tertulis “Selamat ulang tahun Mba. Dari Mama Anas”. Kado itu dari Ibu Rudu, guru senior yang kini usianya sudah tidak muda lagi. Satu kadonya lagi dari Mba Safi, Kado itu dibungkus sangat rapi, aku pun membukanya dengan hati-hati. Isi kadonya adalah sepatu berwarna coklat dan satu kadonya lagi berisi sandal berwarna coklat juga.  Pada hari berikutnya, aku juga mendapatkan kado dari murid-muridku. Ada yang memberikan kue-kue dan juga bros. Tak lupa kuucap terimakasih pada mereka yang telah baik padaku dan berucap syukur pada Allah karena telah menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku. 

Selalu ada kebahagiaan ketika kita berbagi. Kebahagiaan yang mungkin tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Inilah mungkin maksud Allah kenapa Ia menyuruh hambaNYa untuk senantiasa berbagi pada  sesama. Orang yang selalu berbagi Insyaallah segala urusannya akan dipermudah olehNYA. Semoga kita bisa menjadi insan-insan yang selalu gemar berbagi. Aamiin.
Meski jauh dari keluarga di kampung halaman, tapi Insyaallah kebahagiaan kan selalu ada di hati ini. 


@Kampung Woua, Kab. Wakatobi
Ahad, 23 Februari 2014
(tepat satu tahun bertambah usiaku, pertama kalinya merayakan hari milad di tanah Rantau)
*kata “kita” kalau di Sulawesi merupakan sapaan sopan untuk orang yang diajak bercakap, seperti orang Lombok yang bilang “side” ke orang lain.


saat menyuapi Irfan dengan Kasoami dan Ikan ^^

walau sederhana tapi begitu bermakna..


dapet hadiah dari Bu guru Rudu dan Mba Safi

cihuuyyy...dapet hadiah lagi. kali ini dari Anisa (siswaku kelas 3 SD)

Sabtu, 31 Mei 2014

Apresiasi dari Kabid Dikbudpora

Acara terakhir Workshop yang diselenggarakan oleh WWF yaitu acara penutup, setelah 4 hari melaksanakan kegiatan workshop mulai tanggal 28-31 Mei, bertempat di Wakatobi Bajo Resort. Kegiatan di hari terakhir yaitu penyampaian presentasi hasil revisi modul Mulok Kelautan untuk tingkatan kelas Menangah Atas. Setelah presentasi, lalu dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang kurikulum dan implementasi pada Mata pelajaran Mulok Kelautan. Materinya disampaikan oleh Bapak Safiudin, selaku Kabid Dikbudpora dan juga Pengelola Dana BOS. 

Aku suka dengan cara penyampaian beliau. Sosok sederhana yang murah senyum. Apa yang beliau sampaikan sangat bermanfaat dan menambah pengetahuanku dalam membuat rancangan pembelajaran.
Pada sesi tanya jawab, aku memanfaatkan kesempatan untuk bertanya sekaligus memperkenalkan SGI. Bak gayung bersambut, beliaupun ternyata sudah mengetahui kami melalui tayangan POJOK EDUKASI yang kami bawakan di WAKATOBI TV.
Usai acara, kami pun sempat mengobrol.

“Adek yang sering di TV Wakatobi itu kan”, beliau bertanya padaku dengan senyum yang begitu mengembang.

“Iya pak”, jawabku. Senyum kupun tak kalah mengembang.

“Nah saya sempat bilang sama temen-temen guru, seperti itulah harusnya cara mengajar”, ujar beliau.

Wah, sontak saja dalam hati aku merasa kegirangan. Betapa tidak. Tak hanya masyarakat biasa saja yang menyaksikan tayangan kami, pakar-pakar pendidikan pun rela meluangkan waktunya demi menonton program yang kami bawakan.

Alhamdulillah POJOK EDUKASI mendapatkan banyak apresiasi positif dan kali ini datang dari Kabid Dikbudpora, pakar Kurikulum.

Kami merasa apa yang kami bagikan sangatlah sederhana dan kami tak pernah menyangka bisa mendapatkan apresiasi yang luar biasa.

Semoga POJOK EDUKASI bisa memberi banyak manfaat dan inspirasi baik untuk praktisi pendidikan, para pendidik, peserta didik, dan seluruh masyarakat Wakatobi. Aamiin allahumma aamiin..

Kamis, 01 Mei 2014

Memahami Gaya Belajar Siswa



Aksan dan Irjan merupakan murid kelas 3 MIS Al-IKHLAS Wandoka Selatan, tempatku bertugas hingga bulan November 2014 sebagai guru relawan dari Program Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD).  Menurut teman-teman kelasnya,  mereka belum bisa membaca. 

Suatu pagi aku mengajak mereka ke ruang guru, hendak mengajarkan mereka membaca. tapi susah sekali untuk mengajak mereka, terlebih Aksan. Ini kesekian kalinya aku mengajak Aksan, tapi tetap ditolak olehnya. Aku pun tak patah semangat. Ku katakan padanya kalau aku memiliki gambar dan aku ingin menunjukkan gambar itu padanya. Alhamdulillah cara ini ampuh. Dia pun mau ikut bersamaku ke ruang guru, meski masih sedikit malu-malu. Ya, awalnya dia hanya berdiam diri saja di depan pintu ruang guru. Dia tidak mau masuk. Sengaja kuajak Irjan, agar Aksan tidak malu, tapi Irjan pun juga ikut tidak mau masuk.
Setelah merayu mereka, akhirnya mereka pun mau masuk ke dalam ruang guru. Kuajak mereka duduk di salah satu bangku panjang yang ada di ruang guru itu. Kuambil sebuah buku pelajaran untuk kelas 3. Aku tidak langsung mengajak mereka membaca. Kuperlihatkan pada mereka gambar-gambar yang ada dibuku itu dan kuajak mereka untuk menebak gambar dan berapa jumlahnya. Aku ingin memberikan apersepsi terlebih dahulu sebelum mengajak mereka belajar membaca. 
Setelah terlihat semangat terpancar dari wajah mereka, tanda mereka siap belajar, aku pun langsung mengambil media belajar membaca yang sudah kubuat beberapa minggu yang lalu. Sebelumnya media ini pernah kugunakan untuk mengajar membaca siswa kelas 1. Media sederhana yang kuberi nama “Flat Flag”, terbuat dari kertas karton bekas yang sudah lama tersimpan di ruang guru. Kertas karton itu dipotong dan dituliskan suku kata, setiap potongan kertas karton berisi satu suku kata. Kuberikan gambar pada tiap potongan kertas karton, meskipun gambarnya tidak bagus karena memang aku tidak jago dalam menggambar, lalu kuberi warna. Gambar tersebut berhubungan dengan kata yang akan dirangkai. Gambar yang berwarna bisa menggugah minat belajar anak, sebab itulah aku berusaha mengkreasikannya. Setelah itu kutempelkan pada batang lidi. 
Aksan yang dianggap tidak bisa membaca oleh teman-temanya ternyata begitu cepat tanggap dalam belajar membaca dengan menggunakan media sederhana ini. Hanya dalam waktu beberapa menit saja dia sudah bisa merangkai setiap suku kata menjadi kata dan juga frasa. Perubahan yang cukup signifikan. Aksan yang awalnya pemalu dan susah sekali diajak belajar, begitu juga yang sering dikeluhkan oleh orang tuanya, ternyata menujukkan reaksi yang positif. Dia begitu bersemangat mengeja setiap suku kata. Bahkan dia juga sudah mulai lancar membaca. Menurutku Aksan bukan tidak bisa membaca ataupun tidak mau belajar, tapi dia hanya ingin belajar jika media yang digunakan adalah media yang menarik dan dengan menggunakan metode yang menyenangkan, tentunya juga dibutuhkan kesabaran dalam membimbing dan mengajaknya. Biarkan kemauan belajar itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa paksaan. 
Meski awalnya agak susah mengajaknya, tapi akhirnya Aksan mau juga belajar. Sedangkan untuk Irjan, dia tidak pernah menolak ajakanku setiap kali aku mengajaknya belajar. Jika Aksan sudah bisa merangkai kata dan frasa, tidak sama halnya dengan  Irjan.  Dia sama sekali tidak bisa membaca, huruf abjadpun belum bisa dihapalnya. Aku pun mengajarkan dia membaca dari tingkat yang paling dasar, yaitu pengenalan huruf abjad. Butuh waktu lama bagi Irjan untuk bisa mengingat dan menghapal huruf abjad. Jika menggunakan lagu, dia akan cepat sekali menghapal, tapi begitu menunjuk huruf secara acak dan memintanya untuk mengejanya, akan begitu sulit baginya. 
Beda siswa beda pula kelebihan yang dimilikinya. Aksan mungkin cepat tanggap dalam belajar membaca, dan menunjukkan bahwa kecerdasan linguistiknya bagus, tapi dalam hal berhitung sepertinya Aksan mengalami kendala. Aku mulai mengajarinya belajar berhitung dari penjumlahan. Sedangkan Irjan, dia memang di anugrahi kecerdasan matematis dan mungkin juga kecerdasan musikal. Ketika dia melihat soal latihan matematika yang kuberikan pada Aksan, dia mengatakan bahwa soal itu begitu mudah untuknya. Tapi ketika kuminta untuk mengeja kembali huruf-huruf abjad secara acak, dia akan mengalami kesulitan. Sudah beberapa hari ini aku mengajarkannya mengenal huruf abjad, tapi belum semua bisa diingat olehnya. Pelan-pelan, Insyaallah dia pasti bisa.
Setiap orang memang dianugrahi kelebihan dan kecerdasan yang berbeda-beda, begitu juga dengan Aksan dan Irjan dan juga siswa-siswa lainnya. Kita sebagai seoarng pendidik harus jeli melihat setiap kemampuan yang  dimiliki anak didik kita. Usahakan tidak memaksakan kehendak kita pada mereka untuk bisa menguasai seluruh materi ajar. Karena biasanya setiap siswa hanya akan menonjol pada sebagian kecerdasan saja, begitu pun juga mereka memiliki kelemahan pada kecerdasan tertentu. Butuh kesabaran untuk memahami apa yang diinginkan mereka, termasuk gaya belajarnya. Dengan begitu, kita akan bisa melihat potensi yang tersembunyi yang ada dalam diri tiap siswa.  

 (Woua-Wakatobi  , Maret 2014)

Minggu, 30 Maret 2014

Seputar Kelas 1



Akhir-akhir ini Wakatobi mulai sering diguyur hujan. Seperti pagi ini, hujan  turun dengan lebat ketika aku hendak berangkat menuju sekolah. Setelah berpamitan dengan orang rumah, aku pun mengayuh sepedaku, hendak pergi ke sekolah. Tapi baru sampai beberapa meter dari rumah, hujan mulai turun. Aku juga sebenarnya sudah menduga bakalan turun hujan karena  terlihat langit begitu pekat oleh awan hitam ketika aku baru saja membuka pintu belakang rumah. Tapi demi sebuah pengabdian, kulanjutkan langkahku sebelum akhirnya terhenti oleh derasnya hujan yang turun. Aku harus kembali kerumah, aku nggak boleh memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan, apalagi aku hanya menggunakan sepeda yang tentunya waktu yang ditempuh akan lebih lama, dan itu akan membuatku basah kuyup sesampai di sekolah.
Setelah menunggu beberapa menit, hujan terlihat mulai reda. Kubuka pintu depan rumah, langit sudah mulai cerah meski rintik hujan masih tersisa. Jam di dinding hampir menuju jam 8.00, aku harus segera menuju sekolah, bertemu dengan bintang-bintang kecilku.
Aku kemudian bergegas menuju ke belakang rumah, tempat parkirnya sepeda miniku. Setelah kembali berpamitan, aku langsung mengayuh sepedaku. Gerimis lembut masih setia membasahi bumi dan juga membasahi baju dan jilbab oren ku.  Tapi tak kuhiraukan. Jalanan lebih sepi dari biasanya, hanya tampak satu dua kendaraan yang melintas.
Sesampai disekolah, kuparkir sepeda miniku di tempat parkir yang letaknya tak jauh dari ruang guru. Belum sempat ku masuk keruang guru, aku langsung menyapa murid kelas 1 yang lokasi kelasnya berdekatan dengan ruang guru. Untuk masuk ke ruang guru, harus melewati kelas 1. Setelah menyapa mereka, kuletakkan task u di meja guru dan kembali menyapa mereka, kali ini untuk mengajar mereka, karena guru mereka belum datang. Setelah doa dan salam, kutanyakan pada mereka mau belajar apa, mereka serempak menjawab ingin belajar pengurangan. Aku pun mengabulkan keinginann mereka.
Kulihat di pojok kelas ada beberapa kerang kecil, mungkin itu miliknya Irfan, salah satu siswa kelas 1, aku kemudian emminjam kerang itu nuntuk memperkenalkan konsep pengurangan pada mereka, agar mereka juga bisa mempraktikkan langsung cara mengurangi benda-benda yang ada di sekeliling mereka. Jadi tidak hanya dalam bentuk teori saja. Mungkin sebelumnya guru mereka sudah menjelaskan teori pengurangan, sehingga tidak sulit bagiku ketika kuajak mereka untuk melakukan pengurangan dengan menggunakan kerang.
Aku sangat senang mengajar mereka. Selain masih polos dan unyu-unyu, mereka juga siswa yang patuh dan penurut. Meski masih ada siswa yang sulit sekali untuk dikendalikan, seperti Rudi misalnya.menurutku dia merupakan siswa yang paling susah untuk kukendalikan. Aku pun belum menemukan cara yang tepat untuk bisa membuat dia mau belajar, tanpa paksaan. Seringkali dia mengganggu teman-temannya ketika pelajaran sedang berlangsung. Seperti pagi ini, setelah memberikan soal pengurangan pada mereka, kuajak mereka untuk menempelkan potongan kertas bekas pada kertas HVS yang sudah kugambar dengan bunga. Semua murid mengikuti instruksiku, kecuali Rudi. Dia selalu asyik dengan aktifitasnya sendiri. jalan kesana kemari di dalam kelas, teriak-teriak nggak jelas, mengganggu siswi-siswi  yang lain, dan bahkan memukul temannya, itulah yang sering dia lakukan di kelas.
Sudah kucoba berbagai cara untuk bisa menarik perhatian dia agar dia mau menuruti instruksiku, seperti memberikan pujian, memotivasi dia, dan bahkan sampai memberikan punishment, tapi sepertinya semua metode itu tak mempan untuk Rudi. hmmm…aku pun  harus selalu sabar dan kerapkali harus mengelus dada melihat tingkahnya dia. Sebenarnya namanya Adrian, tapi teman-temannya memamnggil dia Rudi.
Di daerah tempatku mengabdi ini, siswa-siswaku punya banyak nama. Antara nama di sekolah dan di rumah berbeda, dan bahkan jauh sekali perbedaan nama mereka. Aku pun kadang sering dibuat bingung dengan perbedaan nama mereka. Tak hanya siswa-siswaku, hal ini juga berlaku untuk masyrakat disini. Mereka memiliki nama panggilan yang bermacam-macam.
Di sekolah aku memang sering masuk di kelas 1 dan kelas 5. Tapi sejak ada guru PNS pindahan dari sekolah lain datang kesekolah, aku pun mulai jarang masuk ke kelas 5, karena sekarang gurunya rajin memantau kelas 5. Dari semua kelas yang ada di sekolahku ini, aku paling suka mengajar di kelas 1. Seperti yang aku katakan sebelumnya, selain unyu-unyu mereka juga patuh. Semua ini tak terlepas dari peran dan bimbingan yang diberikan oleh guru kelas mereka. Dengan sabar dan telaten sang guru membimbing dan mendidik siswa-siswanya.

Pemulung Kecil

Meski Wanci sudah merupakan kota di Kabupaten Wakatobi, tapi sepertinya masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pendidikan. Banyak dari para orangtua yang lebih mendukung ketika anak2nya pergi mengais rezeki daripada menimba ilmu. Bagi mereka, dengan kegiatan belajar disekolah, itu sudah cukup bagi anak-anak dalam memperoleh pendidikan. Para orangtua disini lebih banyak meminta anak-anaknya untuk berjualan kue-kue. Bagiku hal itu tak jadi masalah. Mendidik anak sejak dini untuk membantu orangtua tentu adalah hal yang mulia. Tapi orangtua juga harus memberikan dorongan dan motivasi pada anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif di luar jam sekolah, seperti mengikuti les tambahan dan mengaji di sore ataupun malam hari.
Bahkan aku juga melihat anak-anak usia sekolah harus mengais-ngais sampah demi mendapatkan gelas ataupun botol plastik. Seperti sore itu. Selepas dari berkunjung ke perpustakaan daerah, aku duduk di tangga sebuah yang ada di pinggir jalan raya, sembari menunggu seorang teman yang akan datang menjemput.
Sekitar jarak 5 meter dari tempat duduk, kulihat 2 orang anak dengan masing-masing membawa karung. Mereka muncul dari sebuah gang pasar dan hendak menyebrang jalan. Setelah berhasil menyebrang, mereka mulai mendekati sebuah bak penampungan sampah yang berada di ujung persimpangan jalan dan mengorek-ngoreknya, berharap mendapat barang-barang plastik.
Aku baru saja menemani murid-muridku untuk membaca di sebuah perpustakaan. Kegiatan ini membuat mereka antusias dan bersemangat untuk menyelami ilmu-ilmu baru yang mungkin saja tak mereka dapatkan di sekolah.
Ah seandainya saja orangtua memahami tugas anak adalah untuk belajar, pastilah tak akan ada pemulung-pemulung kecil seperti mereka.

Kamis, 27 Maret 2014

Pisang Goreng Wakatobi Pembawa Berkah

Ketika pergi berkunjung ke Kaledupa, aku sempat singgah di Taman Nasional Wakatobi. Berawal dari pertemuan tanpa sengaja dengan salah seorang pegawai di pelabuhan Ambeua, Kaledupa, namanya Pak Orba. Waktu itu aku pergi bersama dengan Niken, teman seperjuangan SGI.
Ketika sampai di pelabuhan Ambeua, kami bingung hendak kemana dan menggunakan transportasi apa. Kedatangan kami ke Kaledupa dalam rangka mengikuti kegiatan "ekspedisi kemanusiaan Wakatobi", yang dimotori oleh beberapa organisasi spt SSC,

Jumat, 21 Februari 2014

Syukur Ku


at greenpark of Wakatobi

Pulau Wakatobi merupakan  pulau ini sangat terkenal dengan keindahan  biota lautnya. Hampir seluruh spesies terumbu karang ada disini. Maka pantaslah bila para wisatawan asing menjadikan bumi Wakatobi ini sebagai syurganya mereka, syurga diving, melihat keindahan pemandangan alam bawah lautnya yang sangat mengagumkan.

Alhamdulillahirabbi'alamin,,,
Tak henti kuucap syuukur pada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi yang sungguh Indah dan Mempesona. Dia telah memberikanku anugrah yang luar biasa sehingga aku dapat memijakkan kakiku di Bumi Wakatobi ini. Ya, pulau ini menjadi tempat penugasanku selama 1 tahun, dari bulan November 2013 hingga bulan November 2014.

Aku merupakan salah satu Guru dari Lembaga Pendidikan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD) angkatan kelima.  Setelah mendapatkan pembinaan selama kurang lebih 4,5 bulan di Bogor, kami pun dikirim ke daerah penugasan yang tersebar di 5 provinsi yang ada di Indonesia, yaitu di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Banten, Sulawesi Tenggara, dan di NTB. Kami berjumlah 30 orang yang merupakan lulusan S1 dari berbagai macam daerah dan berbagai macam disiplin ilmu, baik itu dari jurusan Pendidikan maupun non-Pendidikan.

Aku sendiri berasal dari Lombok-NTB, daerah asalku tepanya berada di Kota Madya, yaitu Mataram. Inilah daerah penugasanku, di Wakatobi_Sulawesi Tenggara. Bersama dengan 5 guru SGI lainnya, 4 orang berasal dari Provinsi Sumatera dan 1 orang dari provinsi Jawa tengah.

Aku sangat menikmati kehidupanku di Pulau ini. Aku sangat senang bisa menikmati indahnya panorama laut dan juga biota lautnya yang bisa dilihat meski hanya dari permukaan.Banyak sekali biota laut yang bisa kesaksikan, yang sebelumnya tak pernah kulihat.

Lombok memang terkenal dengan pariwisatanya, dan juga keindahan ombak lautnya, tapi untuk spesies biota lautnya masih sangat sedikit. Nelayan di Lombok umumnya membutuhkan waktu hingga berhari-hari untuk bisa mendapatkan ikan, bahkan mereka pun harus bermalam di laut. Tidak seperti di Wakatobi. Pulau ini merupakan syurganya para nelayan. Hanya jarak satu meter dari bibir pantai, kita sudah bisa menyaksikan gerombolan ikan yang berenang membentuk formasi yang sangat indah. Belum lagi jika air laut sedang surut, kita bisa berjalan dan mencari ikan.  Hanya dengan bermodalkan tongkat yang ujungnya runcing atau dengan menggunakan jaring untuk menangkap ikan. Cara menangkap ikan ini disebut dengan "meti".

Wakatobi memang menyimpan begitu banyak keindahan, terlebih keindahan bawah lautnya.
Rasa syukurku pun rasanya tak sebanding dengan nikmat yang telah Allah berikan padaku.
"Fabiaayi'alairobbikumatukadzziban".

Semoga aku pun bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa memijakkan kakiku di belahan-belahan bumi lannya yang juga tak kalah indahnya dengan Pesona Wakatobi. Aamiin..