Selasa, 03 Juni 2014

Siswa dalam Perubahan


Mengajarkan bahasa inggris untuk anak SD memang bukanlah perkara mudah, apalagi untuk siswa-siswa yang berada di daerah pelosok negeri yang belum pernah sama sekali mendapatkan materi Bahasa Inggris. Akan sangat asing bagi mereka. Aku pun harus berusaha menyajikan media dan metode menarik dan menyenangkan, yang bisa menarik minat belajar mereka. Karena kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan bersemangat dalam belajar. 
 
Seperti hari ini, aku memulai pelajaran dengan apersepsi menggunakan brain gym, uji konsentrasi. Aku menggunakan permainan OPEN CLOSE. Jika aku menyebutkan kata OPEN, siswa harus membuka telapak tangannya yang diangkat keudara, dan jika aku sebutkan kata CLOSE, telapak tangan harus ditutup. Agar suasana kelas lebih hidup, aku pun mengadakan kompetisi. Kubagi mereka menjadi 5 kelompok, sesuai dengan deret bangku mereka. Kelompok yang paling kompak dalam mengikuti instuksi, akan mendapatkan bintang. Mereka pun berlomba untuk menjadi kelompok terkompak. Cara ini berhasil membuat mereka menjadi lebih tertib dan tenang. Dengan cara seperti  ini mereka mau mengikuti instruksi yang kuberikan. Brain gym ini menimbulkan gelak tawa diantara mereka jika ada temannya yang tidak kompak denagn kelompoknya.  

Yusril dan Riko, keduanya merupakan siswa yang memiliki semangat belajar rendah. Tapi kali ini mereka begitu bersemangat, apalagi ketika kuajak berkompetisi. Kini aku  paham apa yang mereka inginkan, aku berharap bisa menemukan cara yang lebih efektif lagi dalam menaklukkan mereka agar kesadaran belajar itu benar-benar berasal dari diri mereka. 

Sudah mulai terlihat perubahan dari mereka. Riko hari ini terlihat lebih rajin. Tanpa kuminta dia membersihkan meja dan tempat dudukkuketika aku memasuki kelas. Aku pun juga menunjukknya sebagai salah satu anggota “seksi keamanan”. Sudah mulai terlihat banyak perubahan darinya. Dia sudah mulai bertanggungjawab. Dia pun tidak terlalu hiperaktif seperti sebelumnya. Ketika kutunjuk menjadi seksi keamanan, kuingatan padanya agar bisa memberikan contoh yang baik untuk teman-temannya. Dia pun mematuhi. Terlihat dia mulai tertib dikelas, meski kadang dia masih belum bisa mengontrol emosi dan egonya. Tapi, bagiku itu merupakan suatu prestasi. Ketika ada temannya yang ribut , maka dia akan mengingatkan temannya untuk tenang dengan cara mengangkat kedua tangan diudara, membentuk seperti payung (simbol untuk diam), seperti yang sudah kucontohkan di depan kelas ketika suasana kelas mulai tak terkendali.
Demikian juga halnya denagn Yusril. Dia mulai terlihat rajin ketika aku mengajaknya menempelkan salah satu display, tentang cita-cita. Dia pun mulai aktif mengikuti pelajaran dieklas, meski kadang masih suka meledek dan mengganggu teman-temannya. 

Yusril dan Riko, merupakan contoh siswa yang sebenarnya memiliki keunikan tersendiri. Mereka bukan tidak mau belajar, hanya saja mereka mengingkan adanya media dan metode menarik, kreatif dan inovatif. Dengan begitu, mereka dengan sukarela mengikuti pelajaran. 

Kejujuran Yanto






dari kiri ke kanan : Aku, Sawaludin, Yanto
Suasana masih terlihat sepi ketika ku tiba di sekolah, hanya terlihat beberapa orang siswa yang sedang asik bermain di halaman sekolah, ada juga yang sekedar duduk mengobrol di bawah pohon yang ada di tengah-tengah halaman sekolah. Sebuah pohon besar yang lebat akan dedaunan hijau, begitu mempesona apalagi ketika terpapar sinar mentari pagi.  Segera kumenuju ruang guru yang berada di pojok bangunan TK, ruang guru yang masih menumpang pada bangunan TK. Rupanya ruang guru masih dalam keadaan terkunci. Seorang siswa yang rumahnya dekat dari sekolah yang membawa kuncinya, dia dijadikan oleh kepala sekolah sebagai penjaga dan  juru kunci sekolah. Hitung-hitung sebagai penambah  uang jajanya meski uang yang dia peroleh dari upah menjaga sekolah tidaklah terlalu besar. 
Aku memanggil siswa yang membawa kunci itu. Segera dia membuka kunci pintunya. Belum juga terlihat satu pun guru yang datang, padahal jam ditembok ruang guru sudah menunjukkan pukul 7.40. Melihat ruang guru yang berantakan, aku pun mulai membersihkannya. Kurapikan buku-buku yang berserakan di meja guru, membuang sampah yang sudah terkumpul di sebuah kardus bekas yang diletakkan di pojok ruang guru ke tempat pembuangan sampah yang ada disamping kelas 4, dibantu oleh dua orang siswa kelas 5. Ketika ku melongok ke pojok ruang guru, tempat kardus bekas tadi, kuingat ternyata di dalam kardus itu sebelumnya tersimpan kaleng cat kecil, tapi aku lupa berapa jumlahnya. Dua orang siswa tadi datang kembali menghampiriku yang sedang membereskan buku di salah satu meja guru dekat dengan pintu. Aku kemudian meminta tolong pada mereka untuk mencarikan kaleng cat itu.
“Nak, ibu guru boleh minta tolong carikan kaleng cat, kemungkinan ada di kardus tempat sampah tadi”, pintaku pada mereka.
“Ya, Bu guru”, jawab mereka kompak.
Mereka pun segera berlarian mencarinya. Beberapa menit kemudian salah seorang siswa kembali dengan membawa satu kaleng cat.
“Cuma ini saja Nak?”, tanyaku lembut padanya.
“Ada lagi Bu Guru, di Yanto”, katanya sambil menyerahkan satu kaleng kecil itu. Kuminta dia meletakkan kaleng cat itu di sebuah meja yang sudah kubersihkan tadi.
Selang beberapa detik kemudian, Yanto datang.
“Bu Guru, ini saya dapat satu”, segera dia letakkan cat kaleng itu di atas meja.
Sementara aku masih beres-beres, aku meminta tolong kepada mereka kembali untuk membukakan cat kelang itu, cat kaleng itu sepertinya sudah terpakai sebelumnya, terlihat dari kalengnya yang sudah belepotan oleh isi catnya. Mereka mencoba membukanya dengan tangan, tapi sepertinya tidakberhasil.
“Pakai kayu Bu Guru”, teriak Yanto.
Aku segera mengambil kayu stik es krim yang kebetulan ada di lantai ruang guru, tapi ternyata tidak cukup kuat untuk membuka kaleng cat itu. Setelah mencari sesuatu di segala penjuru ruang guru yang mungkin kiranya bisa dipakai untuk membuka kaleng, aku melihat ada sebuah pisau di dalam sebuah laci meja guru. Segera kuambil dan kuberikan pada Yanto. Telihat Yanto begitu bersemangat membuka kaleng itu, sampai-sampai dia tidak sadar kalau isi catnya sudah tumpah ke lantai. Cat berwarna putih. Melihat cat yang tumpah, aku mencoba mengambil kertas bekas untuk membersihkannya, karena tak kutemukan lap ataupun kain. Tapi kertas saja tidak cukup bersih untuk menghilangkan cat di atas lantai itu. Dengan cekatan Yanto dan Angga pergi keluar mencari lap.
Angga datang dengan membawa lap basah, lalu tanpa kuminta dia langsung membersihkan cat yang membekas di atas lantai. Mereka anak yang pintar, mampu mengambil tindakan yang tepat. Mampu mengatasi masalah meskipun terlihat sepele. Aku jadi salut. Tanpa kuinstruksikan mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Ya, mereka sudah mengambil tindakan yang tepat. Aku pun tersenyum melihat kelihaian mereka dalam mengatasi sebuah masalah. Terlihat sederhana memang, tapi dari hal-hal sederhana itulah bisa terlahir hal-hal yang luar biasa. Semoga. Hari ini aku takjub dengan mereka.
Rasa takjubku tak hanya sampai disitu. Ketika ku masih membersihkan ruang guru, tiba-tiba saja Yanto bertanya padaku.
“Bu Guru, bohong itu tidak boleh kan?”, tanyanya seakan meminta kepastian jawaban dariku.
Aku menatapnya sekilas.
“Iya, sayang. Gak boleh”, jawabku singkat sambil melanjutkan menyusun buku-buku yang masih berantakan.
Aku sama sekali tak mengerti kenapa tiba-tiba Yanto bertanya seperti itu padaku. Aku pun sama sekali tak menaruh curiga ataupun berpikir yang tidak-tidak apa penyebab dia melontarkan pertanyaan itu.
Kutatap dia kembali. Kulihat dia sedikit gusar, tapi masih dengan senyum meski senyum itu terkesan dipaksakan. Dia tampak tidak tenang, aku pun tidak bertanya padanya kenapa dia terlihat begitu gelisah. Aku kembali dengan aktifitasku, sedang dia masih tersenyum.
“Ini Bu Guru”, Yanto mengeluarkan satu kaleng kecil cat dari tasnya, kemudian meyodorkannya padaku. Aku sempat terperangah. Aku tidak menyangka ternyata dia telah melakukan hal seperti itu, mengambil barang orang tanpa izin. Tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan rasa terkejutku. Aku pun tidak mau memarahinya.
Aku mengenal Yanto adalah anak yang baik dan penurut. Di kelas pun dia selalu patuh dan rajin mengikuti setiap pelajaran.Tak pernah kudengan dia membuat ulah ataupun keributan di sekolah. Ketika dia mengajukan pertanyaan seperti itu padaku, aku pikir itu hanya sekedar pertanyaan rasa ingin tahu. Aku juga sempat berfikir dia akan bercerita padaku tentang seorang temannya yang pernah berbohong. Aahh..pikiranku salah. Tapi, aku merasa terbebas dari su’udzon padanya, sedikitpun aku tak curiga apalagi sampai berfikir dia akan menyembunyikan kaleng cat itu ke dalam tasnya.
Tuh kan, Ibu Guru juga sudah mengira kalau kaleng cat itu ada tiga jumlahnya. Wah, Yanto hebat, tos dulu sini sama Bu Guru”, kuangkat tangan kananku dan dia pun menepuk tanganku. TOSSSS…!!! Aku berusaha untuk mencairkan suasana, karena kulihat warna muka dia sudah mulai berubah, tampak sedikit memerah, mungkin karena malu.
Tapi, aku salut dan takjub padanya. Dia anak yang hebat. Dia berani jujur, setidaknya dia sudah berani mengembalikan apa yang bukan menjadi haknya. Harga cat itu tidaklah seberapa, tapi Yanto masih memiliki hati yang bersih, dia tidak mau mengotori hatinya dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan negara, dia tidak mau menjadi pencuri, dia tahu bahwa harga diri itu jauh lebih mahal. Tidak ada yang tahu dia telah menyembunyikan kaleng cat itu ke dalam tasnya, termasuk Angga yang bersamaan dengannya mengambil kaleng cat itu dari tempat pengumpulan sampah, tapi Yanto masih punya rasa takut, dia tahu meski tak ada satu pun manusia yang melihat apa yang telah diperbuatnya, tapi Allah selalu mengetahuinya.
Yanto menyadari bahwa apa yang dilakukannya bukanlah hal yang baik, sebab itulah dia berani jujur. Aku pun mengingatkannya untuk tidak melakukan hal-hal semacam itu lagi. Dia mengangguk. Segera kuletakkan kaleng cat itu di atas lantai di salah satu sudut ruang guru. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Yanto pagi itu. Angga sedang asik dengan sebuah buku pelajaran yang dibacanya di atas bangku panjang yang ada di dalam ruang guru itu. Yanto ikut membaur bersama Angga. Dia ikut mengambil salah satu buku pelajaran dan mulai membacanya, duduk disamping Angga. Aku pun menemani mereka, duduk di antara mereka.
Pagi yang indah dan penuh ibrah, belajar dari kejujuran Yanto. Kejujuran yang terkadang kita sebagai orang dewasa pun sering menafikannya. Dalam teori mungkin kita jago, tapi dalam aplikasi, sepertinya perlu banyak belajar dari keberanian Yanto. Wajah polos dan lugu itu kini mulai menampakkan wajah sumringah, mungkin dia sudah lega dan tak merasakan ada beban lagi. Semoga ini pertama dan terakhir kalinya Yanto melakukan hal seperti itu. Aamiinn….Doa’ku. 


---- tulisan ini pernah dimuat di media cetak Buton Pos,  edisi Pebruari 2014----

kebaikan berbuah kebaikan



“apa yang kita tanam, itulah yang kita panen”, begitulah bunyi salah satu pepatah bijak. 

Sore itu aku sedang menunggu siswa-siswaku yang sedang bersap-siap , aku langsung menjemput mereka ke rumahnya hendak mengajak mereka pergi berkunjung ke perpustakaan daerah Wakatobi. Saat sedang asik menunggu sambil duduk di teras rumah salah seorang siswaku, tiba-tiba gerimis hujan mulai turun. Tapi hal itu takmenyurutkan semangat siswa-siswaku, mereka sangat senang sekali ketika kuajak pergi ke perpustakaan. 

Makin lama rinai gerimis makin lebat. Aku masih menemani siswa-siswaku menunggu angkot yang lewat. Tapi cukup lama kami menunggu, belum juga tampak angkotnya. Jalanan aspal hitam itu mulai  mulai basah oleh hujan dan semakin terlihat lengang. Tak ada satu pun angkot yang lewat.

Siswa-siswaku masih setia menunggu dipinggir jalan, sesekali mereka menoleh kea rah kanan, berharap ada angkot yang melintas, mereka seakan tak peduli dengan gerimis yang membasahi mereka.  Beberapa menit  kemudian, hujan mulai reda, tapi angkot masih belum terlihat jua. Sambil menunggu angkot, kali ini aku memilih duduk di depan kios yang berada di pinggir jalan. Dari arah kiriku, datang seorang wanita paruh baya dengan menggendong bayinya, dia menghampiriku. 

“Bu guru, mau kemana”, tanyanya padaku.

“Mau ajak anak-anak ke perpustakaan, Bu”, jawabku.

Dia terlihat bingung. Sepertinya kata “perpustakaan” masih asing buat ibu itu.

“Saya mau mengajak anak-anak pergi membaca di perpustakaan”, aku mencoba memberikan jawaban lebih jelas.
Dia pun mengangguk.

“Rudi ikut kah?”, tanyanya kembali.

“Iya, Bu. Itu Rudi disebelah sana”, kataku sambil menunjuk ke  salah satu rumah yang ada diseberang jalan. 

“Bu Guru, kita tinggal dimana?”, tanyanya.

“Saya tinggal dirumah Ketua Yayasan, Bu”.

“Bu guru, datang kesini mih ambil ikan pagi-pagi, bapaknya Rudi kan kerja di laut”, katanya sambil menunjuk ke arah laut yang letaknya juga berada diseberang jalan. 

Dia menawariku agar aku datang pagi-pagi mengambil ikan untuk dijadikan lauk.
Aku mengangguk tersenyum, “Ya Bu, nanti kapan-kapan saya datang”. 

Tawaran itu tentulah bukan iseng menawarkan. Aku bisa merasakan benar-benar ada ketulusan dari tawaran itu. Sejak Rudi mulai bersekolah, terlihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah wanita paruh baya itu. dia selalu menyapaku setiap pagi ketika aku dalam perjalanan menuju sekolah. Bahkan jika melihatku dari kejauhan, dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong anaknya dia akan berlari kearahku, hanya untuk menyapaku ramah. 

Rudi merupakan siswa putus sekolah dari SD lain, dan kini dia menjadi anak didikku di MIS AL IKHLAS. Sudah hampir 2 tahun Rudi tidak mau bersekolah. Salah satu penyebabnya adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis. Orangtua kandung Rudi sudah lama bercerai, dan kini Rudi tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu tirinya, dan wanita paruh baya yang  menghampiriku tadi itulah ibu tirinya. Meski bukan ibu kandungnya, tapi ibu tersebut begitu apresiatif terhadap perubahan Rudi, yang awalnya dia tidak mau bersekolah kini mulai mau bersekolah. 

Aku mencoba memberikan motivasi pada Rudi agar dia mau bersekolah kembali. Kuajak dia belajar bersama dengan anak-anak didikku yang lain di sore hari, pergi bersepeda dan bermain bersama. Meski awalnya tak mudah untuk mendekati Rudi, karena dia mencoba menjauh dariku, tapi Alhamdulillah  kini dia sangat bersemangat ke sekolah.aku sangat senang sekali ketika dia mengatakan ingin bersekolah kembali, dan itu memang benar-benar keinginannya, bukan paksaan dari orang lain ataupun dariku. Ya, aku memang tidak pernah memaksa Rudi untuk bersekolah kembali, yang kulakukan adalah menjalin kedekatan emosional, memberikan dia dukungan ,dan  motivasi.  Aku hanya menunjukkan padanya bahwa sekolah itu adalah tempat yang menyenangkan dan belajar itu adalah hal yang sungguh mengasyikkan.


Senin, 02 Juni 2014

Bakso Special di Hari Spesial



Bakso merupakan salah satu makanan yang paling digemari oleh orang Indonesia.   Bakso menjadi menu andalan dikala lapar melanda. Selain harganya ekonomis, rasannya yang maknyos, juga sangat cocok disantap kapan saja, apalagi pada malam hari dan ditambah dengan senandung dari hujan,, cihuyy makin mantaaapppp. Perpaduan bahan-bahan yang terdiri dari karbohidrat, protein,  lemak, ditambah dengan campuran lainnya seperti sayur, tomat, telur dan bahan-bahan lainnya menjadikan menu ini memiliki gizi yang baik untuk kesehatan. 
 
Hmm..membahas tentang bakso, akupun tertarik untuk melakukan eksperimen. Umumnya bakso dibuat dari daging sapi, tapi karena didaerah tempat penugasanku saat ini, yaitu di Wakatobi sangatlah susah mendapatkan daging sapi, aku pun menggunakan ikan sebagai bahan pengganti daging sapi.  Dengan banyaknya pantai yang ada di Wakatobi, karena terdiri dari banyak pulau kecil,  membuat kabupaten ini kaya akan hasil lautnya, salah satunya adalah ikan.

Setelah mencari cara membuat bakso ikan di Internet, aku kemudian mencari ikan dipasar, ditemani seorang kawan. Kalau dari informasi di Internet, untuk membuat bakso ikan yaitu menggunakan ikan tenggiri. Tapi ketika aku cari dipasar, ikan tenggirinya belum ada. Aku pun memilih ikan tongkol sebagai alternatifnya. Kalau di Wakatobi  disebut ikan Balaki. Harganya sangat murah. Ada sekitar 20 ekor, hanya 5 ribu rupiah saja. Murah banget kan…. Maklum Wakatobi adalah gudangnya ikan. Saat itu juga pasokan ikan sedang banyak-banyaknya.

Aku juga mencari bahan-bahan lainnya. Setelah semua bahan didapat, kami bergegas pulang dan langsung mulai bereksperimen. Di Wakatobi hanya beberapa saja kita bisa temukan warung bakso, di pulau tempatku tinggal , yaitu di Pulau Wangi-Wangi penjual bakso bisa dihitung jari.  Kita bisa mendapatkan dengan mudah warung bakso ketika pergi ke Pasar Sentra. Disana ada sekitar 3 warung bakso. 

Selain ingin bereksperimen, hari ini juga bertepatan dengan hari ulathku yang ke 24. Wow,,, umur udah hampir seperempat abad. Di hari yang spesial ini aku ingin membuat sesuatu yang spesial pula, maka kubuatlah bakso ikan spesial.

Hari itu aku juga mengundang rekan-rekan mengajarku (guru-guru MIS AL IKHLAS) untuk datang ke rumah, menyantap bakso rame-rame. Aku menunggu kedatangan mereka seharian. Tapi karena cuaca yang tidak mendukung, hujan turun dari siang hari hingga malam, sehingga hanya satu orang saja guru yang hadir. Tapi, meski begitu, tak mengurangi kebahagiaan yang kurasa. Malam itu ditemani dengan keluarga induk semangku dan juga anak-anak mengajiku, kami menyantap hidangan special itu bersama-sama, tak lupa juga dengan ikan bakar, kasoami dan sambal colo-colo (sambel tomat mentah).

Aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Selain masih diberikan kesempatan hidup untuk bisa berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat, miladku kali ini juga dikelilingi oleh orang-orang special, meski baru beberapa bulan saja aku mengenal mereka. Ya, murid-murid mengajiku, bagiku mereka adalah orang-orang special. Irfan, Ifi dan Riski, mereka murid mengajiku yang setia menemani hari-hariku. Hampir tiap malam tak pernah kurasakan kesepian. Mereka selalu datang kerumah untuk mengaji dan belajar.

Seperti malam ini, pada saat hari miladku, setelah selesai mengaji aku mengajak mereka untuk makan bersama-sama. Meski mungkin dengan hidangan sederhana, tapi terasa begitu spesial. Tampak mereka begitu lahap menyantap bakso yang kubuat, apalagi Irfan, tanpa malu-malu langsung menyikat habis bakso yang ada di hadapannya. Mereka juga meminta nambah lagi. Hidangan yang di piring-piring sudah habis tak bersisa dalam sekian menit. Aku senang melihat mereka dengan lahapnya makan. Aku juga tertawa melihat aksi polos Irfan saat kususapi kasoami dan ikan bakar. Irfan adalah siswa kelas  1 SD, Ifi siswi kelas 5, sedangkan Riski siswi kelas 6, rumah mereka dekat dari rumahku. 

Sebelumnya siang harinya aku juga menyuapi ibu (induk semangku) dengan bakso yang baru selesai kubuat. Aku meminta beliau mencicipinya. Aku pun di doakan olehnya, entah doa apa yang beliau bacakan untukku, tapi beliau terlihat begitu khusyu dan tulus saat mendoakanku. Semoga apapun doa beliau, bisa terkabulkan dan pastinya yang terbaik untukku. Aamiin.  

Keesokan harinya, aku membawa satu toples kecil bakso yang akan kubagi pada guru-guru rekan mengajarku. Mereka terlihat begitu menikmati bakso itu dan salah satu dari mereka memintaku kembali untuk membuat bakso jika nanti aku punya waktu luang. 

Saat tiba disekolah, tak banyak guru yang kutemui. Rupanya ada 2 orang guru yang sedang pergi ke pasar. Ketika aku sedang mengajar dikelas 5, salah seorang guru membuka pintu dan bertanya padaku,
“mba Alan, berapa ukuran sepatu kita?”
Aku tampak sedikit bingung, dan bertanya dalam hati, ada apa ya.
“mm,,36 pak”, jawabku singkat.
“terimakasih”, katanya sambil menutup kembali pintu.
Selesai mengajar, aku biasanya langsung ke ruang guru. Tapi, masih sepi juga. Beberapa saat kemudian, seorang guru masuk dengan membawa 2 buah kado dan memberikanku ucapan selamat. Dialah mba Safi, guru senior di sekolah tempatku mengajar tapi umur kami hampir sama. Di salah satu kado tertulis “Selamat ulang tahun Mba. Dari Mama Anas”. Kado itu dari Ibu Rudu, guru senior yang kini usianya sudah tidak muda lagi. Satu kadonya lagi dari Mba Safi, Kado itu dibungkus sangat rapi, aku pun membukanya dengan hati-hati. Isi kadonya adalah sepatu berwarna coklat dan satu kadonya lagi berisi sandal berwarna coklat juga.  Pada hari berikutnya, aku juga mendapatkan kado dari murid-muridku. Ada yang memberikan kue-kue dan juga bros. Tak lupa kuucap terimakasih pada mereka yang telah baik padaku dan berucap syukur pada Allah karena telah menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku. 

Selalu ada kebahagiaan ketika kita berbagi. Kebahagiaan yang mungkin tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Inilah mungkin maksud Allah kenapa Ia menyuruh hambaNYa untuk senantiasa berbagi pada  sesama. Orang yang selalu berbagi Insyaallah segala urusannya akan dipermudah olehNYA. Semoga kita bisa menjadi insan-insan yang selalu gemar berbagi. Aamiin.
Meski jauh dari keluarga di kampung halaman, tapi Insyaallah kebahagiaan kan selalu ada di hati ini. 


@Kampung Woua, Kab. Wakatobi
Ahad, 23 Februari 2014
(tepat satu tahun bertambah usiaku, pertama kalinya merayakan hari milad di tanah Rantau)
*kata “kita” kalau di Sulawesi merupakan sapaan sopan untuk orang yang diajak bercakap, seperti orang Lombok yang bilang “side” ke orang lain.


saat menyuapi Irfan dengan Kasoami dan Ikan ^^

walau sederhana tapi begitu bermakna..


dapet hadiah dari Bu guru Rudu dan Mba Safi

cihuuyyy...dapet hadiah lagi. kali ini dari Anisa (siswaku kelas 3 SD)