- Aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa kamulah yang terbaik untukku
- Aku mencoba meyakinkan orang-orang disekitarku, bahwa kamulah yang memang pantas mendampingiku
- Aku selalu yakin bahwa inilah cinta sempurna yang selama ini kurindukan
- Aku meyakinkan diriku bahwa tak ada yang perlu kuragukan dari cintamu
- Aku selalu yakin bahwa kau memang tercipta untuk menjadi imamku dan pendampingku
- Aku meyakinkan diriku bahwa aku pun merasakan hal yang sama denganmu
Ah..ini tentang memupuk sebuah keyakinan. Meski aku tahu banyak godaan yang berusaha merubuhkan keyakinanku ini. Semoga keyakinan ini terus bersemayam dalam diri, walau ku tahu ini tak akan mudah tuk dihadapi.
Need your Guide, My Lord
(a&a)
Senin, 17 November 2014
Tentang JODOH
"Jodoh itu misteri dan ia adalah Rahasia Ilahi"
- Meski keluarga dari kedua belah pihak telah bersepakat untuk menjodohkan anak-anaknya, tapi jika tak ada izin dariNya, mereka pun tak akan dipersatukan.
- Sebesar apapun cinta seseorang kepada orang yang diidamkannya, jika Allah tidak berkehendak, maka jodoh pun tak dapat diraih.
- Sekuat apapun kamu menghindar dari orang yang tidak kamu cintai, jika Allah sudah mentakdirkan dia adalah jodohmu, maka kamu pun tak bisa lari dari takdir itu. (but how could we marry with someone who never we love?.. that's my question
- Bagaimanapun manusia berusaha memisahkan 2 insan yang saling mencintai agar mereka tidak bersatu, tapi jika Allah berkendak tuk menyatukan mereka, maka tak ada yang bisa melawan kehendakNya.
- Hanya Allah yang pantas menilai kecocokan dan kepantasan jodoh seseorang
Ya, jodoh itu penuh misteri.
Jodoh itu banyak pilihannya, maka pilihlah yang terbaik menurutmu dan bisa membuatmu bahagia, tidak hanya untuk dunia mu tapi juga tuk akhiratmu.
Meski jodoh adalah rahasiaNya, tapi kita sebagai hamba berhak mengupayakannya. Kita punya hak untuk memilih dengan siapa kita ingin berjodoh. Allah hanya menentukan dan memberikan keputusan.
"Profesor" saya selalu bilang, jodoh itu bisa diciptakan, yaitu dengan memastikan bahwa apa yang kita kerjakan juga dilakukan oleh orang yang kita targetkan. Misalkan, jika kita rajin ngaji maka pastikan pula bahwa dia juga rajin ngajinya. Pun juga sebalinya, jika orang yang kita incar rajin tahajjudnya, maka kita pun harus melihat apakah kita rajin tahajjud atau tidak.
Jodoh itu cerminan diri kita. Maka pantaskan diri agar mendapatkan orang yang memang pantas mendampingi kita.
Semoga kita semua dipertemukan dengan jodoh yang terbaik dan sesuai dengan harapan kita. Aamiin.
(a&a)
Jumat, 20 Juni 2014
3 Hari 3 Malam Menjelajah Pedalaman Buton
Selasa, 17 Juni 2014
Ah..saya benar-benar dilanda
galau. Bingung. Antara jadi pergi atau tidak ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Ditambah lagi 2
orang teman saya yang ditugaskan di Kabupaten Wakatobi tidak jadi ikut, itu
artinya saya sendiri yang pergi. Tapi, saya pun memberanikan diri untuk pergi sendiri.
Itung-itung nambah pengalaman. “Tak masalah, tanpa mereka saya pasti bisa”,
saya membatin.
Tapi, ternyata kepsek saya juga
mau pergi menyebrang ke Bau-Bau, di Pulau Buton. Dan saya pun pergi menyebrang
dengan beliau. Ah..awalnya kan pengen sendiri. Tapi kepseknya ngajakin buat
bareng .
Selasa malam sudah mulai menyebrang
dari pelabuhan Wanci (Wakatobi) ke pelabuhan Murhum (Bau-Bau) ditempuh selama
sekitar 8 jam dengan kapal kayu. Bulan-bulan ini ombak sedang gede-gedenya,
angin pun berhembus dengan kencangnya, kalau di Wakatobi disebut dengan badai
angin timur. Goyangan kapal yang saya tumpangi luar biasa kerasnya, serasa
seperti diayun. Kalau goyangananya sih gak masalah, tapi pusingnya yang gak nahan. Karena perjalanan malam, biasanya
tidur di kapal, menghindari mabuk laut. Tapi, karena goyangannya yang besar,
saya pun agak kesulitan untuk memejamkan mata. Susah sekali rasanya untuk
tertidur pulas. Setelah beberapa menit bergulat dengan rasa yang tak karuan,
akhirnya saya pun tertidur.
Sebelum jam 5 pagi, saya sudah
terbangun, hendak ke kamar mandi yang ada di lantai dasar kapal. Tapi, saya
mulai oleng, gak kuat rasanya, lalu saya kembali lagi menuju tempat semula. Tidur
kembali.
Sekitar jam 7 pagi, kapal
mendarat di pelabuhan Murhum. Untunglah dikapal ketemu dengan salah satu rekan
guru, dia menawarkan saya dan pak kepsek tumpangan gratis di mobilnya menuju rumah saudara induk semang
saya. Disana hanya sebentar saja, lalu team leader SGI 5 yang biasa kami panggil Bang Ki datang
menjemput sekalian pergi ke tempat rental mobil.
Rabu, 18 Juni 2014
Di rumah saudara induk semang ini,
saya disambut dengan secangkir teh hangat, dan juga ketemu dengan bapak semang yang
sudah terlebih dahulu menyebrang, karena ada acara keluarga. Sempat juga minum
jamu 2 gelas, kebetulan ada pedagang jamu yang lewat. Aaahh..sudah lama gak
pernah minum jamu lagi.
Setelah istirahat sebentar di
rumah saudara induk semang, aku dan Bang Ki pun bergegas menuju tempat rental
mobil. Siangnya kami sudah meluncur ke Pelabuhan, menunggu kedatangan anak-anak
SGI 6 yang menyebrang dari Kabupaten Bombana. Sekitar jam 1 siang, mereka sudah tiba di
pelabuhan Bau-Bau. Dari pelabuhan ini kami mampir di sebuah rumah makan yang
jaraknya gak terlalu jauh dari pelabuhan. Saya memesan sop Konro (Kalo di
Lombok disebut sop Bebalung). Tapi rasanya tak senikmat dan seenak bikinan ibu
di rumah. Saya pun tak menghabiskan sop konronya, nasinya pun hanya beberapa
sendok saja saya kunyah. Di Bau-Bau ini akan banyak dijumpai anjal (anak
jalanan), baik yang mengemis ataupun yang berjualan. Kalau untuk anak yang
mengemis, saya tidak pernah mau ngasi duit, nanti mereka jadi terbiasa meminta-minta.
Tapi kalo untuk yg jualan, saya pasti beli. Setelah dari sana, kami langsung ke
Lipu, singgah di rumah rekan guru untuk nitip barang dan istirahat sejenak.
Sore harinya pergi berkunjung ke Benteng
Keraton Bau-Bau, yang merupakan benteng terluas dan terbesar di dunia. Ini kali
kedua saya mengunjungi tempat ini. Setelah puas berfoto, perjalanan dilanjutkan ke
Pasarwajo. Melewati jalanan berkelok-kelok, mirip seperti perjalanan ke Pusuk,
Lombok Utara. Dan ini pun kali kedua juga saya ke Kota Pasarwajo ini. Jaraknya sangat
jauh dari Kota Bau-Bau. Berpuluh-puluh kilometer. Sebelumnya aku dan Bang Ki berembug, gimana bagusnya, apakah
pergi hari ini atau besok pagi ke Kota Pasarwajonya. Dan kesepatan pun didapat.
Takut kalo paginya keburu waktu, perjalanan ke Pasarwajo pun langsung hari itu
juga. Disamping itu juga supaya perjalanan bisa lebih santai, karena waktu ke
Pasarwajo sebelumnya, Bang Ki ngebut banget bawa mobilnya, saya pun sampe
muntah 3 kali. Berkali-kali minta berhenti dijalan, karena gak kuat dengan
mabuk nya. Di pasarwajo, kami tiba malam hari.
Anak-anak SGI 6 penempatan
Sulawesi Tenggara berjumlah 5 orang. Tapi mereka terpisah di 2 Kabupaten yang
bersebrangan, terpisah laut. 3 orang di Kabupaten Bombana, dan 2 orang di
Kabupaten Buton. Nah 2 orang inilah yang kami antar menuju daerah penugasan
mereka. Direktur SGI pun ikut dalam perjalanan ini, sebagai perwakilan dari
pengelola yang mengantar anak-anak SGI. Dan ini pertama kalinya Pak Direktur
menginjakan kaki di Sulawesi Tenggara. Sebab itulah dari pihak SGI, meminta
bantuan SGI 5 sebagai tour guidenya. Saya
juga sebenarnya belum hapal jalan-jalan yang ada di Pulau Buton ini, tapi
untunglah ada Bang Ki, team leader SGI yang multitalented, sangat bisa
diandalkan. Heee…. Jadi di mobil ini kami ber 5 orang. Sebelum sampai ke tempat
penginapan, kami mampir ke Rumah Makan untuk makan malam. Tapi, saya tidak
terlalu lapar, karena masih kenyang dengan sop konro tadi siang. Saya pun hanya
memesan jus apel dan cap-cay goreng
tanpa nasi.
Sekitar pukul 9 malam lewat, kami sudah sampai di
rumah penginapan, di rumah seorang rekan juga, kami memanggilnya Ibu haji. Beristirahat
sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Kamis, 19 juni 2014
Malam berganti pagi, setelah
bersiap-siap dan sarapan, kami langsung meluncur ke Kantor Diknas dan Kemenag
untuk serah terima Guru SGI. Karena di Diknas kami gak ketemu dengan Kadisnya,
kami pun langsung ke Kemenag. Ini pertama kalinya ke Kemenag, tempatnya berada
di dataran tinggi Pasarwajo. Jadi ketika berada dikantor ini, serasa berada di
villa. Seluas mata memandang melihat perbukitan hijau. Lahan ini memang masih belum
banyak bangunannya, makanya ditempatkan banyak bangunan kantor baru di kawasan
ini. Di Kemenag inipun kami gak bisa ketemu dengan Kakanmenag nya, karena
beliau sedang berada di Kota Bau-Bau, di Kantor kemenag yang lama. Kami kembali
lagi ke Kantor Diknas. Disini lagi-lagi kami belum bisa ketemu dengan Kadisnya.
Staf disana meminta kami untuk menghadap ke Pak Usman, selaku Kabid Dikdas (Kepala
Bidang Pendidikan Dasar), tapi Pak Usman pun lagi sibuk rapat kantor Bupati
Buton. Kami pun menyerahkan surat serah terima nya melalui staf yang ada. Sebelumnya kami juga berkunjung ke Polres
untuk melapor. Tapi kata polisi yang bertugas, kami diminta untuk mengurus di
Polres yang ada di Bau-Bau. Untuk wilayah administratif memang mengurusnya di
Polres Pasarwajo, tapi untuk wilayah hukum mengurusnya harus ke Polres Bau-Bau.
Dari Pasarwajo ini perjalanan
dilanjutkan kembali ke Bau-Bau, untuk ketemu dengan Pak Muhtar, selaku
Kakanmenag dan juga berkunjung ke Polres Bau-Bau. Sesampainya di Kemenag, kami
disambut hangat oleh Kakanmenag nya. Beliau juga mengajak kami makan siang
bersama. Usai dari sana, kami singgah di sebuah masjid untuk menunaikan shalat
dzhur. Setelah shalat kami langsung menuju ke Polres. Nah disini kami mulai
berkelililng cari alamat Polres nya. Nanya berkali-kali. Dan setelah muter2
akhirnya sampai juga di Polres. Disana hanya sebentar saja.
Perjalanan kembali dilanjutkan,
kali ini mengantar anak-anak SGI ke tempat penugasannya yang berada di pulau
seberang, jadi mesti menyebrang dulu dengan kapal ferry. Sebelumnya pergi ke
Lipu dulu untuk mengambil barang yang dititip. Penyebrangan kapal ferry sekitar
pukul 16.30 wita. Masih ada waktu satu jam. Dan kami manfaatkan untuk singgah
sebentar di taman kota Bau-Bau sembari minum es teller.
Pukul 16.00 kami sudah bersiap ke
pelabuhan Murhum, tapi melalui gerbang disebelah kanan, gerbang untuk kapal
ferry. Penyebrangan sekitar 20 menit. Ongkos hanya 8 ribu perorang, sedangkan
untuk mobilnya 110 ribu. Setelah menempuh perjalanan laut, sampailah di daratan
Muna, tempat penugasan anak-anak SGI 6. Tapi, perjalanan belum selesai. Kami harus
melewati jalanan yang penuh dnegan debu dan lubang ada dimana-mana. Benar-benar
kawasan 3T. debunya pun sangat tebal, saking tebalnya, dau-daunan yang ada dipinggir
jalan warnanya sudah berubah kecoklatan tertutup debu.
Perjalanan ini memakan waktu
sekitar 2 jam, tapi ini baru satu daerah penugasan. Tempatnya ada di Kecamatan
Lakudo. Disini kami hanya sebentar saja, serah terima dengan kepsek Madrasahnya. Lalu perjalanan kembali
berlanjut menuju kecamatan Gu, jaraknya sekitar 7 kilo dari tempat pertama. Ini pun baru sampai di rumah dinas lama
Kepsek. Singgah sebentar untuk serah terima juga. Supaya tidak kemalaman sampai
daerah tujuan, kami bergegas malam itu menuju desa Rahia, sekitar 6 kilo lagi. Jalanan
disini sangat sepi dan gelap. Hanya mobil kami saja yang lewat. Di kanan kiri
jalan kami hanya melihat semak belukar. Jarak kampung satu dengan yang lainnya
pun lumayan jauh.
Sekitar pukul 9 malam, kami tiba
di tujuan akhir. Alhamdulillah sampai juga. Karena capeknya, kami pun langsung
tepar. Tak sempat mandi dang anti baju. Daki di badan mungkin udah setebal 3
cm. hahahaa….
Jum’at, 20 juni 2014
Pagi-pagi saya sudah mandi. Setelah sarapan
dengan menu alakadar, pukul 5.30 kami sudah harus berangkat menuju pelabuhan Wamengkoli karena
direktur kami mengejar kapal cepat yang akan menuju ke Kendari. Sekitar setengah
jam, kami sudah tiba di pelabuhan, mengantar direktur terlebih dahulu
menyebrang. Sedangkan saya dan bang Ki menyebrang di kapal yang selanjutnya
pada pukul 8.30. 20 menit penyebrangan dilalui. Kami kembali lagi ke Lipu,
mengambil barang yang tertinggal. Pukul 11 pagi, sudah berangkat lagi,
mengantar mobil rental. Saya dan Bang Ki berpisah di depan Universitas
Muhammadiyah Buton (UMB). Bang Ki pergi ke tempat rental, setelah itu baru
berangkat balik lagi ke Muna. Sedangkan saya, rencananya malam ini mau balik ke
Wakatobi, tapi karena kondisi badan masih belum memungkinkan, jadi nyebrangnya
ditunda. Un tunglah ada teman yang tinggal dekat dari Kampus UMB. Menginap semalam
dulu disini. Rencana nya juga mau balik ke Wakatobi pakai Kapal Cantika, supaya
lebih cepat sampai, tapi memang sedikit lebih mahal. No Problemo. Pengen menikmati
suasana rame Kota Bau-Bau dulu sebelum terasing kembali di daratan Wakatobi. Hee….
Di sekolah juga sudah akan mulai libur.
Aahh…rasanya hidung saya mulai
meler, tenggorokan juga mulai kering karena melewati jalanan berdebu. 3 hari 3 malam menjelajah pedalaman
Buton. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dan alhamdulillah saya pun gak
sampai muntah-muntah dalam perjalanan panjang ini. Hanya sedikit pusing saja. Padahal
dulu ketika pergi ke Tangerang dari Bogor yang hanya menempuh waktu satu jam,
saya sudah muntah-muntah.
Bisa karena biasa. Karena alasan
muntah-muntah dan sering pusing itulah yang memacu dan memicu saya untuk bisa
menaklukkannya. Hahaaa… :) :) n I can do it. It
was amazing experience.
Selasa, 03 Juni 2014
Semangkuk Bubur Kacang Hijau
Malam itu perutku terasa begitu
keroncongan. Setelah selesai mengajar anak-anak mengaji, aku langsung
istirahat. Awalnya hendak langsung makan, tapi karena masih ada tamu yang
sedang mengobrol dengan keluargaku diruang makan, aku urungkan niat untuk makan
terlebih dulu. Jam menunjukkan pukul 21.15. Rupanya perut sudah tak bisa diajak
kompromi. Setelah tamu pulang aku
pun menuju dapur. Tapi nasi hanya
sedikit. Bapak angkatku pun belum makan malam.
Salah seorang temanku mengajakku
mencari kasoami (makanan khas yang terbuat dari ubi, biasa dijadikan sebagai
pengganti nasi). Hampir semua lapak penjual kasoami dipinggir jalan sudah
tutup. Jalanan pun tampak sepi. Setelah berjalan sekitar 15 meter, kami
mendapati lapak yang masih buka.
“Beli”, kataku memanggil penjualnya
dari luar. Kalau di lapak ini memang tidak dijaga setiap waktu, jualan dilepas
di atas teras tinggi yang ada di depan rumah.
Tampak seorang wanita berjilbab
keluar dan menghampiri kami yang berdiri disamping lapak.
“Beli apa”, tanyanya. Di lapak itu
juga tak hanya menjual kasoami, tapi juga makanan lainnya seperti roti goreng,
roti panggang dan pisang molen.
“Beli kasoaminya, Bu”, jawabku
singkat.
“Tunggu sebentar, saya ambilkan
kantong dulu”, dia lalu kembali masuk kedalam rumah, mengambil kantong plastik.
Beberapa menit kemudian ibu itu
keluar dan memasukkan kasoami ke dalam kantong plastik yang sudah diambilnya.
“Eh Ibuguru padahal”, katanya sambil
menyodorkan plastik berisi kasoami itu, menyadari bahwa yang membeli kasoaminya
adalah aku.
Karena cahaya lampu yang tak terlalu
terang, aku pun juga baru menyadari kalau Ibu itu adalah orang tua dari salah
satu muridku.
“Ibuguru tidak ambil bubur?”, tanyanya
menawariku bubur kacang hijau yang ada di dalam sebuah wadah tertutup, sebuah
wadah yang biasa dijadikan tempat menyimpan nasi oleh pedagang nasi agar
nasinya tetap hangat. Wadah itu masih diletakkan
di depan pintu masuk, dekat dengan lapak tadi.
“Lain kali saja Bu”, kataku.
“Sekarang saja Buguru. Ini saya baru
pulang dari pasar”, katanya sambil membuka tutup wadah bubur kacang hijaunya.
Tanpa menunggu kata dariku, dia lalu kembali
masuk kedalam rumah, hendak mencari wadah untuk tempat bubur yang akan
diberikan padaku.
Di tempatku bertugas saat ini, di
Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi terdapat 3 pasar utama, yaitu pasar
sentra, pasar pagi dan pasar malam, belum lagi dengan lapak-lapak yang dibuka
disepanjang jalan. Rupanya ibu tadi baru saja pulang dari pasar malam, menjual
dagangannya, motornya pun masih terparkir dipinggir jalan. Buru-buru dia
menuangkan bubur kacang hijau kedalam mangkuk plastik besar, mungkin takut
nanti kalau aku menolak tawarannya lagi. Semangkuk bubur kacang hijau yang
mungkin bisa disantap untuk 6 orang.
“Ini Buguru, dibawa saja dulu sama
wadahnya”, katanya sambil menyodorkan mangkuk besar itu.
Setelah mengucap terimakasih, kami
langsung pulang dengan membawa kasoami dan bubur kacang hijau. Ini bukan
pertama kalinya aku mendapatkan kebaikan dari Ibu tadi. Jika aku membeli pisang
molennya, dia pun akan memberikan tambahan untukku. Dia juga seringkali menawariku dagangan yang
sedang digorengnya jika aku berjalan-jalan disore hari.
Keberkahan yang aku dapatkan tidak
hanya itu saja dan tidak hanya dari satu walimurid. Aku juga pernah diberikan
kangkung oleh walimurid yang rumahnya berdekatan dengan sekolah. Aku pun
seringkali ditawarkan, “Buguru, kalau mau masak kangkung, ambil saja disini”. Ditempatku
ini sayur mayur merupakan barang mahal. Satu ikat kecil kangkung dihargai 5000
rupiah, kalau di Lombok mungkin hanya 2000 rupiah. Aku juga pernah ditawari Ikan oleh mamanya
Rudi, murid baruku yang baru saja masuk
sekolah setelah 1 tahun lebih tak pernah
sekolah lagi disekolahnya yang dahulu. Salah seorang walimurid juga menyuruhku
untuk memilih sepatu mana saja yang aku mau, karena dia merupakan salah satu
penjual sepatu terlaris dan terkenal di Pulau Wangi-Wangi ini.
Tak hanya dari walimurid, dari
orang-orang sekitarku pun aku kerap mendapatkan kebaikan dari mereka. Waktu itu
aku hendak membeli pisang molen, salah seorang bapak yang biasa berkunjung
kerumah tinggalku kebetulan lewat, lalu kupanggil, hendak menawarkan pisang
molen padanya, tapi malah dia yang
membayarkan pisang molen itu untukku, padahal niatnya aku yang akan membelikan
untukknya.
Saat aku mengirim laporan
bulanan,netbook ku tiba-tiba saja rusak, tak bisa mendeteksi sinyal wifi. Aku
hampir saja tak bisa mengirim laporan padahal sudah deadline. Untunglah ada orang baik yang meminjamkanku laptopnya
untuk kugunakan sehingga akupun bisa mengirim laporan.
Di bulan yang berbeda juga, masih
pada saat hendak mengirim laporan, netbook ku lowbat, aku lupa menchargenya.
Mau balik kerumah, jarak tempat hotspotnya
cukup jauh dari rumah. Di tempat hotspot itu juga tak ada colokan listrik,
karena area hotspot itu merupakan fasilitas publik sebuah taman kota yang
lokasinya berada di kawasan yang sepi penduduk.
Di dekat area hotspot itu ada sebuah rumah kos-kosan yang juga masih jarang penghuni. Alhamdulillah di rumah kos itu ada
orang yang berbaik hati memberikanku tumpangan listrik untuk mencharge
netbookku. Akupun bisa mengirim laporan bulanan. Dan masih banyak lagi
kebaikan-kebaikan lainnya yang kudapatkan. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan
orang-orang baik yang telah berbuat baik padaku. Aamiin allhumma aamiin.
********************************************
Profesi menjadi guru memang tidak
menjanjikan kemewahan. Dari segi materi tentulah masih sangat jauh dari kata layak
jika dibandingkan dengan profesi lainnya, sehingga banyak guru yang juga
bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Tapi, ada satu hal yang
mungkin tak disadari, bahwa banyak keberkahan hidup yang kita dapatkan menjadi
seorang guru. Banyak orang-orang sukses yang terinspirasi oleh motivasi yang
diberikan gurunya. Dan bagi mereka, sosok guru memiliki peran yang sangat
berpengaruh dalam hidup mereka. Tak hanya bagi anak didik, pun juga bagi
orangtua anak didik kita. Meski kita sudah tidak mengajar anaknya lagi, karena
anaknya sudah lulus dari sekolah tempat kita mengajar, mereka akan selalu
mengingat, “Oh itu gurunya anak saya”. Mereka akan selalu mengenang kita dengan
satu kata,--- “GURU”---, meski mungkin nanti kita sudah tidak ada di dunia ini.
Semoga kita bisa selalu menjadi guru
yang disayang, dicinta dan disenangi oleh masyarakat dimanapun kita berada. Menjadi
seorang guru yang menginspirasi. Aamiin…
#Berkah_Jadi_GURU
Pentingnya mahram untuk wanita
Siang itu aku
hendak pergi ke sebuah minimarket untuk membeli pengharum pakaian, sebuah
minimarket yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggalku. Ketika
sampai di pintu gerbang, aku disapa oleh murid-muridku yang baru saja datang,
memegang IQRA dan juga perlengkapan menulis, mereka hendak mengaji dirumahku
dan juga belajar menulis huruf arab.
“Bu guru, besok kita mengaji tidak”, Tanya salah
seorang muridku.
“Tidak. Kalau Sabtu dan Minggu libur kita mengaji”, jawabku
padanya.
Aku kembali melanjutkan ,
“Tunggu ibu guru disini dulu ya, ibu guru mau pergi
beli sesuatu di sana”, kataku sambil menunjuk kearah minimartket. Kuminta
mereka menungguku sebentar di depan gerbang rumah.
“Iya bu Guru”, jawab mereka serempak.
Aku melanjutkan langkahku, sekitar dua meter
melangkah, salah seorang murid memanggilku, berusaha menyapa dari kejauhan,
“Bu Guruuuuuuuuu…”
Aku menoleh, mencari sumber suara.
“Iya,,,, tunggu sebentar yaaaa”, jawabku sedikit
mengeraskan suara.
Kulihat dari kejauhan ada sekumpulan pemuda yang
duduk di sebuah gazebo dekat minimarket itu. Ingin rasanya aku kembali hendak
memanggil seorang kawan cewek untuk menemaniku, tapi kuurungkan, karena aku
merasa tidak enak untuk meminta ditemani olehnya, tampaknya dia sedang khusyu’
menyaksikan tayangan di layar televisi, takut nanti mengganggu. Sempat juga
berfikir mengajak murid-muridku, tapi lagi-lagi kuurungkan.
Kulanjutkan langkah kakiku, dan bahkan sengaja
kupercepat agar segera sampai tujuan. Tidak ada jalan lain, mau tidak mau aku
harus melewati mereka. Ketika lewat di depan mereka, salah seorang dari mereka
menyapaku,
“Mau kemana cewek?”, tanyanya sambil terus
memperhatikan langkahku yang mulai tergopoh-gopoh
“Mau beli sesuatu”, jawabku singkat sambil menunjuk
sebuah minimarket yang kini sudah ada di depanku.
Pemuda itu kembali melontarkan sesuatu,
“Beli di hatiku aja”, sambil nyengir dia masih
memperhatikan aku yang sudah membelakanginya.
Aku hanya terdiam, berjalan sambil menunduk. Menatap
aspal hitam yang berkilauan terpapar sinar matahari siang. Segera kumasuk ke
dalam minimarket, mencoba menghindar dari tatapan pemuda itu.
Arrghh....risih rasanya, mendapatkan sapaan seperti itu. Aku
merasakan ketidaknyamanan, apalagi nanti ketika aku balik kerumah. Aku berharap
semoga mereka sudah pergi ketika aku keluar dari minimarket, sehingga aku tidak
perlu lagi mendengar sapaan “menggoda”mereka.
Setelah mendapatkan apa yang kucari, segera ku
bergegas menuju kerumah. Kasian muri-murid ku jika harus menunggu lama.
Ketika keluar dari minimarket, aku masih melihat mereka,
para pemuda itu. rupanya mereka masih setia nongkrong di gazebo itu. Aku
mendesah dan menarik napas panjang. Kuhentikan langkahku sejenak. Mempersiapkan
diri dan mental kalau-kalau nanti mendapatkan sapaan tak jelas.
Bismillah…kataku dalam hati. Insyaallah Allah melindungi.
Murid-muridku masih setia menungguku di depan
gerbang, meski dari jauh aku masih bisa melihat mereka menanti kedatanganku.
Segera kugerakkan kakiku, langkah demi langkah kini terlalui hingga sampai di
depan sekumpulan pemuda itu. Dan, aku pun mendapatkan sapaan lagi. Tapi kali
ini dari pemuda yang berbeda.
“Mau pulang ya cewek”, katanya sambil mengamati
setiap langkahku.
“Iya”,
jawabaku singkat dengan nada datar.
Kuteruskan langkahku, melengos dari hadapan mereka.
Tatapan memburu mereka membuatku semakin risih. Kupercepat langkahku. Ingin
menghindar tapi tak bisa. Yang bisa kulakukan hanyalah mempercepat langkah
sambil menunduk tak jelas.
Ahh…aneh sekali rasanya jika aku hanya berjalan
menunduk. Aku pun mulai berani mendongakkan kepalaku, melihat senyum-senyum
tulus dari wajah-wajah polo situ. Terdengar sebuah teriakan,
“Ibu Guruuuuuuuuuuuuuu”, murid-muridku kembali
menyapaku ketika melihatku berjalan menuju rumah.
Aku membalas dengan senyum.
Ketika hampir sampai di depan gerbang, kuminta
mereka langsung masuk kedalam. Mereka pun menurut. Aku mengikuti dari belakang.
Berjalan sendiri apalagi di depan kerumunan orang
memang tak pernah memberikanku kenyamanan. Aku merasa ada banyak mata yang akan
mengawasiku. Apalagi jika harus berjalan di hadapan sekumpulan cowok,
hmm…rasanya ingin berlari atau memutar haluan. Aku gak suka dengan sapaan menggoda mereka, membuatku kesal.
Mungkin inilah salah satu alasan kenapa wanita
dilarang bepergian seorang diri, takut kalau-kalau ada mahkluk jail yang
mengganggu. Di dalam sebuah hadits sudah ditegaskan bahwa hendaknya jika
seorang wanita ingin bepergian, harus ada mahram yang mendampingi agar dia aman
dari godaan-godaan maupun hal-hal yang tidak diinginkan.
Memakai busana muslimah tidak menjadikan mereka malu
untuk menyapa, bahkan dengan sapaan yang kurang pantas ditujukan ke wanita
muslimah, menurutku.
Ya Allah. Aku bermuhasabah diri. Mungkin ada caraku
atau sikapku yang kurang berkenan sehingga aku masih saja mendapatkan sapaan
seperti itu. Mungkin aku yang bersu’udzon pada mereka, bisa jadi niat mereka
baik, tapi mungkin mereka tidak tahu bagaimana cara yang baik. Tak mungkin juga
kujelaskan pada mereka apalagi sampai memarahi mereka. Ah…apapun itu,
Insyaallah selalu ada hikmah yang terselip.
Semoga Allah segera menunjukkan jalanNYA agar aku
bisa bertemu dengan sang pendamping hidupku yang tentunya tidak hanya sekedar
jadi mahram waktu aku bepergian bersamanya, tapi juga bisa menjadi imam, teman,
sahabat, dan tempatku membagi suka dukaku. Aamiin Rabb.
Wanci-Wakatobi
(di Pojok Kamar, menatap diri dalam cermin)
Jum’at, 20 Desember 2013, 22.00
Aku Pun Masih Belajar
Sekitar jam 10 pagi,
ketika aku sedang menemani anak-anak kelas 2 belajar berhitung di ruang
guru, salah seorang guru honorer menghampiriku. Sesosok wanita muda yang
umurnya hampir sama denganku. Terlihat ada guratan kesedihan di wajahnya. Dia
sempat memanggilku dengan sedikit merajuk, layaknya anak kecil yang meminta
mainan pada ibunya, tapi panggilannya belum sempat kurespon karena aku masih sibuk mendampingi anak-anak.
Dia kembali memanggilku dengan suara yang lebih tinggi.
“Mba
Alaaaaaaaaaaaaaaannnn”
“Iya”,
buru-buru kujawab, takut jika nanti dia marah atau kecewa.
“Mba,
gimana ini, saya ajak anak-anak kelas 5 itu untuk buat kreasi, iihhhh tapi
susahnya mereka diatur. Mau-mau nya mereka sendiri. Apalagi yang cowok-cowoknya
mba, banyak yang tidak mau”, dia mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
Ini bukan
kali pertama dia meminta pendapatku bagaimana agar anak-anak mau mendengar apa
yang diperintahkannya. Aku menghela napas. Mencoba mencari jawaban yang pas dan
tepat.
“Coba
mulai dari yang mereka sukai. Saya lihat mereka suka menggambar. Coba mba minta
mereka menggambar. Kalau mereka sudah suka dengan kita, apapun yang kita
instruksikan pasti mereka mau ikuti”, kataku mencoba memberikan masukan.
“Gitu
ya mba. Oke deh mba. Nanti saya coba. Terimakasih ya mba”.
Dia pun
berlalu menuju kelas 5.
Setelah
selesai membimbing anak-anak kelas 2 belajar berhitung, aku pun singgah ke
kelas 5. Kulihat kelas mereka begitu tenang. Rupanya siswa-siswa sedang sibuk
membuat gambar objek yang mereka sukai, dan yang menjadi favorit mereka adalah
menggambar kapal. Hampir semua menggambar kapal. Sedangkan untuk siswi-siswinya, mereka
begitu asyik dengan atribut-atribut tariannya.
Guru tersebut
mengikuti apa yang kusarankan. Setelah selesai mengajar, dia kembali
menghampiriku.
“Mba
Alan, saya harus banyak-banyak bertanya nih sama mba”.
Sepertinya
dia ingin lebih banyak lagi berdiskusi denganku. Dia pun bertanya kapan aku
akan balik ke Bogor.
“Bulan
berapa Mba balik ke Bogor?”, kini dia mulai melirik kalender yang tertempel di
tembok ruang guru itu.
“Bulan
11, November”, kataku.
“Iiii
padahal tinggal sebentar lagi di”.
Aku
hanya mengangguk tersenyum.
Begitu
pun halnya dengan guru-guru yang lainnya. Mereka banyak berdiskusi denganku.
Meminta saran bagaimana agar anak-anak mau aktif belajar. Yang paling sering
adalah guru perwalian kelas 1. Umur kami pun hampir sama, sehingga tidak
sungkan bagi kami untuk saling bertukar pikiran. Dia sering meminta pendapatku
saat anak-anak didiknya tak mau mendengarkan, tak mau belajar, ketika ada
siswanya yang bolos, dan mulai tidak patuh.
“Mba,
gimana ini si Irfan mulai sering bolos”, suatu hari dia bertanya padaku.
Aku
coba berfikir sejenak.
“Oh
coba besok saya kasitau Irfan ya”, aku hanya menjawab singkat.
Esoknya
aku menghampiri Irfan dan bertanya perihal kenapa dia bolos, aku pun
mengajaknya mengobrol. Mencoba menjadi pendengar yang baik dan memahami alasan
dibalik sikap bolosnya itu. Irfan mulai rajin masuk, entah karena aku sudah
mengajaknya mengobrol atau karena hal lain. Aku pun memberitahukan gurunya
penyebab Irfan bolos. Sejak saat itu, gurunya sering bertanya dan meminta
saranku, terutama juga dalam menangani siswa-siswa berkebutuhan khusus. Serasa
seperti konsultan pendidikan yaaa….heee J . Semoga
nanti bisa jadi praktoso dan consultant pendidikan sesungguhnyaa. Aamiinn Ya Raabbb..
Aku
sebenarnya juga masih banyak belajar bagaimana cara mengatasi anak-anak yang
berperilaku tak sesuai dengan yang diharapkan. Meski ilmu yang ku punya
sedikit, Alhamdulillah semoga itu berkah dan bisa kubagi pada rekan-rekan guru
disini. Mereka begitu mengapresiasi kehadiranku di tengah-tengah mereka. Ketika
ada masalah, baik itu terkait dengan anak didik ataupun dengan pendidik
lainnya, mereka sering bercerita padaku. Alhamdulillah,, semoga keberadaaku
disini sebagai relawan guru, membawa manfaat pada sesama. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)
